Mulai dari 1.000 hari pertama

1 dari 5
balita Indonesia
mengalami stunting.

Angka itu masih bisa berubah. Kuncinya ada pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Berdasarkan SSGI 2024, 19,8% balita Indonesia mengalami stunting, sekitar 4.482.340 anak.

Ilustrasi garis seorang ibu memangku bayinya, dikelilingi simbol gizi dan pengukuran.

Di balik angka

1 dari 5 anak itu,mungkin tetangga, kerabat, atau keluargamu sendiri.

Mengapa 1.000 hari?

Otak bayi terbentuk dengan kecepatan yang luar biasa.

Scroll untuk melihat seberapa cepat.

koneksi saraf baru per detik

Pada tahun-tahun pertama kehidupan, otak bayi membentuk 700 sampai 1.000 koneksi saraf baru setiap detik. Masa secepat ini tidak akan terulang lagi.

Pada usia 3 tahun, 85% perkembangan otak anak sudah terbentuk. Sebagian besar anak Indonesia belum masuk PAUD pada usia ini.

Saat lahir

Sebagian besar struktur dasar otak sudah terbentuk sejak dalam kandungan.

Usia 0–1 tahun

Otak berkembang sangat cepat. Koneksi saraf pada kecepatan tertingginya.

Usia 1–3 tahun

Otak terus mematangkan fungsi penting sebelum anak memasuki tahap berikutnya.

Karena itu, gizi dan stimulasi pada 1.000 hari pertama sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar anak di masa depan.

1.000 hari

270 hari di rahim, 730 hari setelahnya. Masa penting yang membentuk masa depan anak.

Fondasi mulai terbentuk
Hari ke-0dari 1.000
Trimester 1Trimester 2Trimester 30–6 bulan6–12 bulan12–24 bulan

Beban yang tidak merata

Prevalensi stunting memang terus menurun sejak 2013.Namun, 1 dari 5 balita masih mengalaminya, dan bebannya tidak merata.

Perjalanan panjang

Indonesia sudah berhasil menurunkan angka stunting sejak 2013.

Dari 37,2% pada 2013 menjadi 19,8% pada 2024. Artinya, sekitar 357.000 anak terhindar dari stunting pada tahun 2024.

Namun, target 14,2% pada 2029 menunjukkan bahwa pekerjaan ini belum selesai.

0%10%20%30%40%Target 2029 — 14,2%37,2%19,8%14,2%5,0%2013202420292045

BANYAK HAL YANG BERKONTRIBUSI PADA STUNTING

Stunting bukan hanya tentang kurang makan.

Stunting terjadi karena banyak hal saling berkaitan, mulai dari kebijakan, sanitasi, pola asuh, hingga pilihan makanan di rumah.

  • Kondisi sosial-ekonomi

    Kemiskinan, akses layanan kesehatan, dan kebijakan publik ikut menentukan peluang anak untuk tumbuh sehat sejak awal kehidupan.

  • Komunitas & lingkungan

    Air bersih, jamban layak, pengelolaan limbah, dan akses ke posyandu membantu melindungi anak dari infeksi berulang yang dapat memicu stunting.

  • Rumah tangga

    Pendapatan keluarga, pendidikan ibu, jumlah anak, dukungan ayah, dan ketahanan pangan memengaruhi kualitas asupan serta perawatan anak di rumah.

  • Pola asuh & makan

    IMD, ASI eksklusif, MPASI bergizi, frekuensi makan, dan kebersihan makanan adalah bagian dari kebiasaan harian yang langsung memengaruhi tumbuh kembang anak.

  • Kesehatan ibu dan anak

    Gizi ibu sebelum dan selama hamil, berat lahir bayi, imunisasi, serta penanganan saat anak sakit berperan besar dalam mencegah stunting.

Panduan lengkap

Apa yang perlu dilakukan? Kapan?

Pilih fase usia anak untuk melihat panduan ringkas dari Buku KIA 2024, mulai dari kebiasaan harian, jadwal pemeriksaan, hingga tanda bahaya yang perlu diwaspadai.

Pencegahan dimulai sejak kehamilan.

Pencegahan stunting dimulai sebelum bayi lahir. Gizi ibu, pemeriksaan rutin, dan kebiasaan sehari-hari selama hamil membantu mendukung pertumbuhan bayi sejak dalam kandungan.

Yang dialami

  • Berat badan naik sesuai status gizi awal
  • Trimester 1: mual, mudah lelah, dan rentan keguguran
  • Trimester 2: gerakan bayi mulai terasa sekitar bulan kelima
  • Trimester 3: mudah lelah, sulit tidur, dan lebih sering buang air kecil
  • Ukuran janin berkembang dari kira-kira sebesar jeruk nipis, jagung, hingga semangka

Sumber: Buku KIA 2024, hal. 4–17

Sebaran nasional

Stunting tidak tersebar merata di seluruh negeri.

Setiap wilayah punya tantangan yang berbeda. Lihat kondisi 514 kabupaten/kota, dari daerah yang sudah membaik hingga yang masih membutuhkan perhatian.

Simeulue — 25,5%Aceh Singkil — 34,2%Aceh Selatan — 34,2%Aceh Tenggara — 30,9%Aceh Timur — 36,7%Aceh Tengah — 31,4%Aceh Barat — 25,6%Aceh Besar — 32,3%Pidie — 32,6%Bireuen — 27,1%Aceh Utara — 19,2%Aceh Barat Daya — 36,2%Gayo Lues — 20,6%Aceh Tamiang — 27,4%Nagan Raya — 35,5%Aceh Jaya — 31%Bener Meriah — 32,8%Pidie Jaya — 31,6%Banda Aceh — 23,7%Sabang — 23,4%Langsa — 15,6%Lhokseumawe — 20,8%Subulussalam — 27,5%Nias — 26,1%Mandailing Natal — 22,2%Tapanuli Selatan — 6,6%Tapanuli Tengah — 32,3%Tapanuli Utara — 32,5%Toba Samosir — 27,1%Labuhanbatu — 25,3%Asahan — 13,9%Simalungun — 26%Dairi — 29%Karo — 17,6%Deli Serdang — 19,6%Langkat — 16%Nias Selatan — 37,6%Humbang Hasundutan — 18,3%Pakpak Bharat — 27,5%Samosir — 28,6%Serdang Bedagai — 19%Batu Bara — 23%Padang Lawas Utara — 30%Padang Lawas — 25,2%Labuhanbatu Selatan — 22%Labuhanbatu Utara — 17,5%Nias Utara — 25,8%Nias Barat — 34,4%Pematangsiantar — 12,2%Medan — 15,4%Binjai — 25,6%Padangsidimpuan — 30,3%Gunungsitoli — 17,4%Kepulauan Mentawai — 26,2%Pesisir Selatan — 26,5%Solok — 29,5%Sijunjung — 28,2%Tanah Datar — 26,9%Padang Pariaman — 26,6%Agam — 27%Lima Puluh Kota — 26,6%Pasaman — 29,1%Solok Selatan — 21,5%Dharmasraya — 20,5%Pasaman Barat — 26,6%Padang — 20,6%Solok — 18,6%Sawahlunto — 20%Payakumbuh — 16,4%Pariaman — 15,7%Kuantan Singingi — 23,1%Indragiri Hulu — 20%Indragiri Hilir — 25%Pelalawan — 16,8%Siak — 16,2%Kampar — 16,2%Rokan Hulu — 21,4%Bengkalis — 12,5%Rokan Hilir — 24,5%Kepulauan Meranti — 18%Pekanbaru — 14,5%Dumai — 16,9%Kerinci — 16,4%Merangin — 9,6%Sarolangun — 6,6%Batanghari — 18,4%Muaro Jambi — 18,8%Tanjung Jabung Timur — 23,9%Tanjung Jabung Barat — 7%Tebo — 24,2%Bungo — 20,4%Jambi — 10,3%Sungai Penuh — 8%Ogan Komering Ulu — 22%Ogan Komering Ilir — 24,3%Muara Enim — 20,4%Lahat — 12,9%Musi Rawas — 19,3%Musi Banyuasin — 14,8%Banyuasin — 16,8%Ogan Komering Ulu Selatan — 16,6%Ogan Komering Ulu Timur — 17,4%Ogan Ilir — 27,4%Empat Lawang — 31,9%Penukal Abab Lematang Ilir — 20,5%Musi Rawas Utara — 22%Palembang — 10,6%Prabumulih — 11,6%Pagar Alam — 20%Lubuklinggau — 20,9%Bengkulu Selatan — 18,3%Rejang Lebong — 24,7%Bengkulu Utara — 20,7%Kaur — 15,9%Seluma — 22,6%Mukomuko — 22%Lebong — 22,7%Kepahiang — 17%Bengkulu Tengah — 23,4%Bengkulu — 16,1%Lampung Barat — 20,5%Tanggamus — 24,9%Lampung Selatan — 10,4%Lampung Timur — 14%Lampung Tengah — 15,5%Lampung Utara — 20%Way Kanan — 13,9%Tulang Bawang — 18,3%Pesawaran — 15,5%Pringsewu — 19,5%Mesuji — 11,1%Tulang Bawang Barat — 13,4%Pesisir Barat — 19,8%Bandar Lampung — 14,8%Metro — 14,8%Bangka — 21,2%Belitung — 18,1%Bangka Barat — 19,9%Bangka Tengah — 21,2%Bangka Selatan — 24,6%Belitung Timur — 17,1%Pangkalpinang — 17,3%Karimun — 21,4%Bintan — 16,3%Natuna — 18,5%Lingga — 19,8%Kepulauan Anambas — 15,8%Batam — 14%Tanjungpinang — 12,9%Jakarta Selatan — 14,9%Jakarta Timur — 16,4%Jakarta Barat — 17,4%Jakarta Utara — 19,7%Bogor — 18,9%Sukabumi — 20,5%Cianjur — 7,2%Bandung — 24,1%Garut — 14,2%Tasikmalaya — 17%Ciamis — 20,3%Kuningan — 22,7%Cirebon — 18%Majalengka — 18%Sumedang — 17%Indramayu — 9,8%Subang — 12,4%Purwakarta — 14,4%Karawang — 17,6%Bekasi — 18,2%Bandung Barat — 30,8%Pangandaran — 17,3%Bogor — 21,1%Bandung — 22,8%Bekasi — 11,7%Depok — 12,5%Tasikmalaya — 19,6%Banjar — 18,8%Cilacap — 15,6%Banyumas — 19,6%Purbalingga — 22,3%Banjarnegara — 20,6%Kebumen — 18%Purworejo — 14,9%Wonosobo — 23,9%Magelang — 19,3%Boyolali — 24,5%Klaten — 20,8%Sukoharjo — 16,8%Wonogiri — 15,1%Karanganyar — 17,4%Sragen — 15,8%Grobogan — 25,6%Blora — 21,7%Rembang — 15,8%Pati — 16,5%Kudus — 13,2%Jepara — 15,6%Demak — 10%Semarang — 14,5%Temanggung — 27,3%Kendal — 19,2%Batang — 20,7%Pekalongan — 19,5%Pemalang — 19,1%Tegal — 15,9%Brebes — 23,1%Semarang — 11,2%Kulon Progo — 18%Bantul — 16,5%Gunungkidul — 19,7%Sleman — 17,3%Pacitan — 11,7%Ponorogo — 13,4%Trenggalek — 6,7%Tulungagung — 13,6%Blitar — 17,8%Kediri — 7,9%Malang — 23,3%Lumajang — 23,4%Jember — 30,4%Banyuwangi — 17,6%Bondowoso — 11,2%Situbondo — 10,6%Probolinggo — 26,3%Pasuruan — 26,1%Sidoarjo — 10,6%Mojokerto — 15,2%Jombang — 17,2%Nganjuk — 22,8%Madiun — 12,1%Magetan — 10,3%Ngawi — 11,4%Bojonegoro — 12%Tuban — 11,3%Lamongan — 6,9%Gresik — 15,2%Bangkalan — 17,6%Sampang — 18,9%Pamekasan — 22,3%Sumenep — 11,2%Kediri — 17,6%Malang — 22,8%Surabaya — 8,5%Batu — 24,5%Pandeglang — 26,4%Lebak — 32,4%Tangerang — 23,4%Serang — 20,2%Tangerang — 11,2%Cilegon — 19%Serang — 22,9%Tangerang Selatan — 10,5%Jembrana — 7,5%Tabanan — 7,5%Badung — 7,2%Gianyar — 5,4%Klungkung — 5,2%Bangli — 8,3%Karangasem — 13%Buleleng — 14,8%Denpasar — 10,4%Lombok Barat — 27,3%Lombok Tengah — 24,9%Lombok Timur — 33%Sumbawa — 29,8%Dompu — 19,8%Bima — 23,8%Sumbawa Barat — 18,2%Lombok Utara — 35,3%Bima — 28,4%Sumba Barat — 35,2%Sumba Timur — 30,9%Kupang — 39,5%Timor Tengah Selatan — 56,8%Timor Tengah Utara — 47,3%Belu — 44,3%Alor — 37,4%Lembata — 25,7%Flores Timur — 31,3%Sikka — 32,3%Ende — 30,7%Ngada — 28,9%Manggarai — 41%Rote Ndao — 32,4%Manggarai Barat — 31,1%Sumba Tengah — 37,4%Sumba Barat Daya — 47,5%Nagekeo — 25%Manggarai Timur — 38,8%Sabu Raijua — 32,2%Malaka — 31,6%Kupang — 26,9%Sambas — 36,4%Bengkayang — 23,4%Landak — 28,6%Mempawah — 28,6%Sanggau — 21,3%Ketapang — 17,9%Sintang — 31%Kapuas Hulu — 23,6%Sekadau — 14,4%Melawi — 35,2%Kayong Utara — 23,8%Kubu Raya — 30,2%Pontianak — 22,3%Singkawang — 21,9%Kotawaringin Barat — 16,5%Kotawaringin Timur — 21,6%Kapuas — 22,5%Barito Selatan — 33,3%Barito Utara — 20,4%Sukamara — 20%Lamandau — 18,3%Seruyan — 32,2%Katingan — 19,6%Pulang Pisau — 27,9%Gunung Mas — 14,1%Barito Timur — 21,7%Murung Raya — 15,8%Palangka Raya — 19,1%Tanah Laut — 22,5%Kotabaru — 23,2%Banjar — 32,3%Barito Kuala — 16,5%Tapin — 13,2%Hulu Sungai Selatan — 19,8%Hulu Sungai Tengah — 19,6%Hulu Sungai Utara — 27,6%Tabalong — 23,1%Tanah Bumbu — 21,6%Balangan — 16%Banjarmasin — 26,5%Banjarbaru — 15,4%Paser — 23,4%Kutai Barat — 27,6%Kutai Kartanegara — 14,3%Kutai Timur — 26,9%Berau — 23,4%Penajam Paser Utara — 32%Mahakam Ulu — 23,2%Balikpapan — 24,8%Samarinda — 20,3%Bontang — 20,7%Malinau — 26%Bulungan — 15,9%Tana Tidung — 7,4%Nunukan — 21,7%Tarakan — 12,6%Bolaang Mongondow — 19,3%Minahasa — 19,4%Kepulauan Sangihe — 24,2%Kepulauan Talaud — 11,6%Minahasa Selatan — 28,1%Minahasa Utara — 18,9%Bolaang Mongondow Utara — 26,3%Siau Tagulandang Biaro — 19,9%Minahasa Tenggara — 21,9%Bolaang Mongondow Selatan — 23,6%Bolaang Mongondow Timur — 18,8%Manado — 18,8%Bitung — 25,1%Tomohon — 10,8%Kotamobagu — 23,1%Banggai Kepulauan — 28,4%Banggai — 28,7%Morowali — 22,6%Poso — 21,1%Donggala — 29,6%Toli-Toli — 26,9%Buol — 36,9%Parigi Moutong — 22,3%Tojo Una-Una — 16,5%Sigi — 33%Banggai Laut — 26,6%Morowali Utara — 20,4%Palu — 25,6%Kepulauan Selayar — 25,7%Bulukumba — 25,2%Bantaeng — 24,3%Jeneponto — 37%Takalar — 24%Gowa — 17%Sinjai — 28,6%Maros — 22,4%Pangkajene Dan Kepulauan — 25,2%Barru — 26,9%Bone — 26%Soppeng — 26,6%Wajo — 20,5%Sidenreng Rappang — 20,3%Pinrang — 22,2%Enrekang — 34,3%Luwu — 23,6%Tana Toraja — 27,5%Luwu Utara — 23,6%Luwu Timur — 21,8%Toraja Utara — 27,6%Makassar — 22,9%Parepare — 26,1%Palopo — 22,7%Buton — 28,8%Muna — 25%Konawe — 25%Kolaka — 29,7%Konawe Selatan — 21,3%Bombana — 24,7%Wakatobi — 24,1%Kolaka Utara — 23,6%Buton Utara — 30,5%Konawe Utara — 27%Kolaka Timur — 22%Konawe Kepulauan — 26,5%Muna Barat — 28,4%Buton Tengah — 31,8%Buton Selatan — 38,9%Kendari — 24,4%Baubau — 29,8%Boalemo — 8%Gorontalo — 28,3%Pohuwato — 18%Bone Bolango — 23%Gorontalo Utara — 25,6%Gorontalo — 31,2%Majene — 37,5%Polewali Mandar — 31,5%Mamasa — 35,7%Mamuju — 38,7%Mamuju Utara — 36,7%Mamuju Tengah — 31,5%Maluku Tenggara Barat — 29,5%Maluku Tenggara — 28,1%Maluku Tengah — 27%Buru — 25,4%Kepulauan Aru — 37,6%Seram Bagian Barat — 33,8%Seram Bagian Timur — 35%Maluku Barat Daya — 23,8%Buru Selatan — 39,7%Ambon — 19,7%Tual — 25,2%Halmahera Barat — 22,1%Halmahera Tengah — 19,7%Kepulauan Sula — 22,5%Halmahera Selatan — 32,3%Halmahera Utara — 21,8%Halmahera Timur — 24,3%Pulau Morotai — 17,7%Pulau Taliabu — 24,9%Ternate — 16,6%Tidore Kepulauan — 16,6%Fakfak — 21%Kaimana — 20,2%Teluk Wondama — 29,2%Teluk Bintuni — 22,3%Manokwari — 23,5%Sorong — data tidak tersediaRaja Ampat — data tidak tersediaTambrauw — data tidak tersediaManokwari Selatan — 26,4%Pegunungan Arfak — 39,3%Sorong — data tidak tersediaSorong Selatan — 30,9%Sorong — 14%Raja Ampat — 31,1%Tambrauw — 38,5%Maybrat — 12,9%Jayapura — 22,5%Nabire — data tidak tersediaKepulauan Yapen — 33,5%Biak Numfor — 20,6%Puncak Jaya — data tidak tersediaBoven Digoel — data tidak tersediaYahukimo — data tidak tersediaSarmi — 31,6%Keerom — 24,4%Waropen — 22,3%Supiori — 37,5%Mamberamo Raya — 33,8%Mamberamo Tengah — data tidak tersediaYalimo — data tidak tersediaJayapura — 24,1%Merauke — 14,5%Boven Digoel — 36,4%Mappi — 21,6%Asmat — 46,3%Nabire — 10,1%Paniai — 38,65%Puncak Jaya — 37,9%Mimika — 36%Puncak — 29,4%Dogiyai — 19,5%Intan Jaya — 41,15%Deiyai — 20,9%Jayawijaya — 41,5%Pegunungan Bintang — 35,9%Yahukimo — 48,45%Tolikara — 39,5%Nduga — 44,5%Lanny Jaya — 27,2%Mamberamo Tengah — 38,5%Yalimo — 26,4%

Dari 501 wilayah: 188 rendah, 214 sedang, 89 tinggi, 10 tanpa data.

4.482.340

balita di Indonesia masih mengalami stunting

  • Rendah (<20%)
  • Sedang (20–29,9%)
  • Tinggi (≥30%)
Jelajahi peta wilayahmu

TEMPAT PENCEGAHAN DIMULAI

Posyandu adalah ujung tombak pencegahan stunting.

Lebih dari 300.000 posyandu di seluruh Indonesia hadir setiap bulan untuk menimbang, mengukur, dan mendampingi keluarga. Lewat kunjungan rutin, pertumbuhan anak bisa dipantau sejak dini dan masalah dapat ditangani lebih cepat.

Jadwal imunisasi dasar. Setiap baris adalah jenis vaksin, setiap kolom adalah bulan ke-0 sampai bulan ke-24, sel berwarna menandai dosis terjadwal.
Bulan ke-0123456789101112131415161718192021222324
HB0 (Hepatitis B)
BCG
Polio (OPV/IPV)
DPT-HB-Hib
PCV
Rotavirus (RV)
Campak-Rubela (MR)
Japanese Encephalitis (JE)

Dosis terjadwal: kotak berwarna menandai dosis yang direkomendasikan pada bulan tersebut. Hover sel untuk rincian.

  1. Pemantauan pertumbuhan

    Berat dan tinggi anak dipantau setiap bulan agar risiko gangguan gizi bisa terdeteksi dini.

  2. Imunisasi dasar & lanjutan

    Imunisasi melindungi anak dari infeksi yang dapat mengganggu tumbuh kembang.

  3. Edukasi gizi & MPASI

    Keluarga mendapat panduan tentang ASI, MPASI, gizi seimbang, sanitasi, dan pola asuh.

  4. Vitamin A & obat cacing

    Vitamin A dan obat cacing diberikan sesuai usia untuk mendukung daya tahan tubuh dan pertumbuhan anak.

CEK FAKTANYA

Banyak mitos yang masih beredar. Buka kartu untuk mengungkap faktanya.

Kenali informasi yang sering terdengar benar, padahal belum tentu tepat.

Yang bisa berubah

Perubahan dimulai dari keputusan kecil setiap hari.Terutama di 1.000 hari pertama, saat tubuh dan otak anak tumbuh paling cepat.

PERIKSA KESIAPANMU

Seberapa sigap Anda mencegah stunting?

Jawab 10 pertanyaan singkat untuk melihat sejauh mana kamu memahami pencegahan stunting.

LANGKAH BERIKUTNYA

Setiap anak Indonesia berhak
tumbuh sehat dan cerdas.

Mulai dari satu keluarga, satu posyandu, satu kabupaten.

Pemahaman tentang stunting bisa menjadi awal perubahan yang lebih besar.

Lihat sumber dan catatan ↓